Jurnal Saripati Hidup vol. 1 : Pengantar

on Jumat, 11 September 2009

Dengan nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang semua bermula. Maka, jika ada kalimat yang memulai perjalanan hidupku, itu adalah bismillahirrahmanirrahiim.
Dua puluh tahun lebih sudah rentang hidupku di dunia ini, hanya beberapa di antaranya saja saat-saat yang bisa ku anggap sebagai kehidupan, selebihnya tak begitu penting, tak benar-benar hidup.
Kehidupan bagiku adalah berdzikir pada Allah. Merasakan nikmat yang dianugerahkan-Nya dan mensyukurinya. Membaca, menghafalkan, dan mengamalkan alquran. Amar ma'ruf nahi munkar. Berkumpul bersama teman-teman yang shalih. Bangun di waktu sahur kemudian menangis sampai adzan shubuh berkumandang.
Semua itulah yang memberiku alasan untuk hidup. Dan dari enam alasan itulah aku bermimpi yang kemudian ku iringi dengan kerja keras yang terencana agar ku bisa bertahan hidup.
Mimpi. Ini langkahku kali pertama selama dua puluh tahun hidupku. Seperti bayi yang baru saja bisa berdiri, kini mulai belajar melangkahkan kaki.
Dengan mimpi yang tak sekedar angan namun juga rasionalitas dan segala kemungkinan-kemungkinan realisasinya, ku tahu apa yang ku tuju dan ku perjuangkan. Itulah kekuatan mimpi. Dengan mengetahui arah ke mana akan ku bawa kehidupanku, ku tahu jalan mana yang harus ku tempuh.
Mimpiku adalah menjadi manusia yang terbaik. Manusia yang bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi manusia lainnya. Dari impian itu ku rangkum semua potensiku dan ku sinkron-kan dengan manfaat apa yang bisa ku berikan untuk umat manusia. Dan karena ini mimpi, -mimpi itu gratis- maka ku pasang mimpiku di bintang-bintang tertinggi. Entah berapa lapis langit harus ku tembus untuk meraihnya. Sungguh aku takkan pernah mampu menembusnya kecuali dengan sulthan. Ku harap ku tahu sulthan-ku. Adakah bagiku atau tiadakah? Ku masih mencari. Tapi aku tak mau berputus asa dari rahmat-Nya. Ada atau tiadanya sulthan untuk ku tembus langit, mau tak mau aku harus berusaha meraih mimpi yang ku pasang sendiri tinggi-tinggi itu.
Mimpi memang kuat, kawan. Kekuatannya mampu membangunkanmu walaupun ketika tubuhmu mengais lelah. Mampu membuatmu berlari walaupun pincang. Mampu membuatmu bertahan atas cemoohan orang-orang yang mengira kau pemimpi yang sudah tak waras. Maka jangan pernah berpikir kau bisa meremehkan kekuatan mimpi, kawan. Ia kuat. Sangat kuat. Maka benarlah sabda yang pernah disampaikan Nabi saw. tentang kekuatan mimpi. “Mimpi (harapan) adalah rahmat Allah atas umatku. Dengannya seorang ibu tetap mau menyusui bayinya walaupun ia tidak mengetahui bayinya (ketika dewasa nanti), akankah berbakti atau durhaka”. Subhanallah.
Maka bagiku mimpi adalah rahmat Allah yang amat besar. Nikmat pertama yang harus disyukuri. Mensyukurinya adalah dengan cara mewujudkannya. Mewujudkannya dengan cara yang dikehendaki-Nya dan jalan yang ditunjuki-Nya.
Oleh karena itu mimpi yang hebat saja tidak cukup, kawan. Mimpi takkan cukup membuat seseorang sampai pada bintangnya. Ia perlu sesuatu. Ia perlu sulthan. Sebuah kekuatan yang berbentuk aktifitas. Yaitu kerja nyata. Karena kerja itulah bentuk perjuangan hidup. Mimpi bukan bentuk perjuangan hidup, kawan. Mimpi adalah sesuatu yang kau perjuangkan untuk meraihnya. Mimpi itu di semesta pikiranmu. Sedangkan, kerja itu di alam nyata. Kerja itulah perjuangan, jembatan menuju bintang. Ialah 'sulthan' yang minimal harus dimiliki seorang pemimpi yang ingin sukses menembus langit. Maka jika kau sudah memasang mimpi di bintang-bintang di langit hatimu, janganlah kau terbuai oleh indahnya bintang. Fokuslah pada tujuan itu dan bekerjalah.
Kerja keras. Kerja keraslah yang membuat seorang ilmuwan menemukan penemuan besar di abad-abad terdahulu. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan ratusan bahkan ribuan kali tak dijadikan pematah semangat. Itulah semangat ilmuwan. Semangat pemimpi. Semangat yang sama-sama dimiliki oleh para ilmuwan dan pemimpi. Semangat untuk bangkit kembali setelah terjatuh. Semangat pantang gagal. Nampaknya lebih seperti keras kepala daripada maju terus pantang mundur. Tapi itulah yang membuat mereka berhasil. Yang paling keras kepala (baca: paling keras kerjanya) adalah Thomas Alva Edison. Ia sebenarnya berbakat dan cerdas, tetapi kenyataannya kerja kerasnyalah -dengan sedikit keberuntungan berupa inspirasi tentunya- yang mengantarkan ia pada kesuksesan yang sangat besar sepanjang sejarah. Ia terus mencoba dan mencoba untuk membuat sebuah kawat logam agar tahan lama berpijar saat dialiri arus listrik. Ia ingin membuat bola lampu. Ia ingin membuat penerangan di malam hari. Padahal tak kurang dari dua ribu kali ia mencoba beberapa jenis dan rancangan kawat logam yang tahan berpijar itu dan hasilnya gagal. Ribuan kawat-kawat itu selalu putus saat berpijar dialiri arus listrik. Hingga kawat ke dua ribu barulah ia berhasil. Walaupun sebenarnya itu pseudoserendipity, kawan. Karena ketika ia mencoba memijarkan kawat wolfram, -di penghujung usaha menuju keputus-asaan, tak sengaja celananya yang terbuat dari nilon terbakar . Dari peristiwa itulah ia mendapat ilham untuk membuat kawat wolfram tipis berbelit-belit yang unik yang memungkinkan kawat wolfram tak putus ketika dipijarkan. Akhirnya eureka, ia berhasil membuat bola lampu. Tapi itulah yang namanya rahmat Allah, kawan. Allah Maha Rahman, Pengasih. Rahman-Nya berlaku bagi siapa saja, muslim ataupun bukan muslim, makhluk hidup maupun makhluk tak hidup. Apalagi jika seseorang sudah bekerja keras untuk kemaslahatan umat manusia. Allah tidak punya alasan untuk tidak membantunya. Allah tidak akan tinggal diam atas usaha manusia yang hampir putus asa dari rahmat-Nya karena gagal ribuan kali untuk membuat penerangan di malam hari. Pasti ditolong-Nya. Pasti. Itu pasti, kawan.
Aku bemimpi menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Siapa saja. Itulah cita-citaku di dunia. Maka aku punya alasan untuk bertahan hidup karena tahu apa yang ku tuju. Tentang bagaimana menjalaninya, maka tawakal adalah syarat mutlak untuk itu. Setiap usaha yang diiringi dengan doa dan niat yang tulus, itulah yang bisa mengantarkan kepada kesuksesan. Aku percaya Allah akan menunjukkan jalannya. Jalan itu ada dan sudah terbentang bahkan sebelum aku berdoa meminta-Nya. Bekerja dengan cerdas dan terencana lalu mengerahkan segenap jiwa dan raga untuk siap menempuhi apapun tantangan di jalan ini. Aku telah bermimpi. Aku telah menuliskan visi-misi hidupku secara terperinci dan aku siap bekerja sampai Allah sendiri yang mencukupkan umurku. Oleh karena itu, ada sesuatu yang amat esensial dalam perjalanan hidup ini bagiku selain mimpi, kerja cerdas, dan kerja keras. Yaitu keikhlasan.
Ikhlas. Setiap pekerjaan hanya dikarenakan Allah semata dengan meniadakan kedengkian, keserakahan dan kesombongan. Karena bisa saja semua doa dan usaha itu akan tak bernilai sama sekali di hadapan Allah jika tak ada keikhlasan di dalamnya. Boleh saja seseorang sukses di hadapan umat manusia tetapi di hadapan Allah kesuksesannya tak berarti apa- apa malah mengantarkannya kepada neraka, na'udzubillahi min dzalik. Usaha ini tak boleh untuk merendahkan orang lain -dengan merasa diri lebih dari orang lain- melainkan mengangkatnya. Tak boleh untuk kepentingan diri sendiri melainkan manfaatnya benar-benar dirasakan umat manusia seluruhnya. Tak boleh dengan cara yang tak dikehendaki-Nya melainkan dengan cara yang benar sesuai petunjuknya, Alquran dan sunnah rasulullah saw.
Ikhlas. Membantu manusia untuk selalu meluruskan niatnya ketika menyimpang. Mengingatkan ketika lupa. Membangkitkan semangat ketika malas. Karena di sana ada Allah. Karena Allah-lah satu-satunya alasan untuk bermimpi, bekerja cerdas dan bekerja keras. Maka tak ada orang ikhlas yang merasa kelelahan dan sendirian. Tak ada manusia ikhlas yang tersesat di tengah jalan kemudian putus asa. Karena untuk Allah-lah ia bekerja. Maka ada Allah yang mengiringi setiap langkahnya.
Ku tetapkan mimpi, kerja cerdas, kerja keras dan ikhlas sebagai landasan hidupku. Alquran dan sunnah rasulullah sebagai peta perjalananku. Tawadhu dan tawakal sebagai jati diriku. Inilah aku, kawan. Bagaimana dengan dirimu? Siapa dirimu? Sungguh ku ingin tahu alasanmu masih hidup di dunia ini. Melangkah berdampingan denganmu dan berlomba denganmu dalam kebaikan.

***

0 komentar:

Posting Komentar



ShoutMix chat widget