Cinta adalah lautan. Hawa nafsu adalah ombaknya. Berusahalah untuk selalu membawa angin kebaikan untuk mengendalikan sang ombak. Tetapi jangan hentikan angin untuk menghentikan ombak. Karena tanpa ombak, lautan itu tak terlihat indah.
Istana hujan, 24 Rabi’ul akhir 1429
Mengapa lautan? Karena cinta bagaikan air. Mengalir. Dan lautan adalah di mana terdapat air dalam jumlah yang sangat banyak. Ia juga tempat penghidupan bagi yang menghuninya maupun bukan penghuninya.
Mengapa ombak? Karena memang hawa nafsu selalu berkaitan dengan hati manusia sebagaimana halnya cinta. Hawa nafsu yang terkendali akan menghasilkan kebaikan yang luar biasa efeknya. Hawa nafsu juga yang membuat keinginan dan tekad itu ada. Tinggal bagaimana mengendalikannya agar bisa beriringan dengan cinta. Hingga cinta itu berbuah kebahagiaan. Dan terlihat indah tentunya.
Lalu apa itu yang dinamakan murni bila masih ada campur tangan hawa nafsu?
Cinta tak bisa lepas dari keinginan, tekad, kerja keras, rasa cemburu, rasa memiliki, rasa harap-harap cemas dan khawatir, rasa rindu dan lainnya. Semua itu adalah sebagian perihal cinta yang berkaitan dengan hawa nafsu.
Tanpa rasa ingin dan tekad, kita takkan bisa mengumpulkan keberanian untuk mencintai. Sehingga takkan terlahir kerja keras apapun untuk memperjuangkan cinta. Tanpa rasa cemburu, rasa memiliki, rasa harap-harap cemas, dan rasa rindu, kita tak bisa memperhatikan dan merawat. Karena untuk memperhatikan butuh kecemasan. Cemas bila orang yang dicintai tidak kunjung bahagia atau karena alasan lainnya. Rindu akan pemandangan terindah melihat orang yang dicintai itu bahagia. Kalau tidak cemas dan rindu, bagaimana bisa perhatian itu diwujudkan?
Karena untuk merawat butuh rasa memiliki dan rasa cemburu. Cemburu bila ternyata orang yang dicintai lebih bahagia bersama orang lain daripada dengan anda. Cemburu bila ternyata ada yang lebih mampu mencintai daripada anda. Kalau tidak ada rasa memiliki dan rasa cemburu, optimalkah perawatan yang anda lakukan terhadap cinta yang anda perjuangkan?
Maka dari itu hawa nafsu tetap berperan dalam lautan cinta. Membuat lautan terlihat dan terasa indah.
Tetapi yang mesti jadi perhatian dalam hawa nafsu ini adalah pengendalian. Jangan sampai hawa nafsu melampaui batasan, berjalan tidak seiring jalannya cinta bahkan mengacaukan. Jangan sampai keinginan terlampau besar sehingga terkesan memaksakan. Jangan sampai rasa rindu dan cemas memperbudak pikiran untuk selalu memikirkan. Jangan sampai rasa memiliki dan rasa cemburu mengubah cinta menjadi dengki dan dendam.
Tentang cinta : Lautan hati adalah dia
Diposting oleh muhammadsyahrularief on Jumat, 11 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar