Kunci-kunci, Ujian, dan Kehendak-Nya yang Misterius

on Minggu, 11 Oktober 2009

Aku bahkan bisa mendapatkan kebaikan dari Allah di saat ku hampir membenci keputusan-Nya. Itu membuatku sadar betapa berharganya iman di dalam dadaku ini. Walaupun sedikit. Aku bersyukur. Aku pun terkejut dengan kebaikan yang diperbuat-Nya padaku. Sujudku makin panjang.
Kawan, dua hari yang lalu aku adalah orang yang terkena musibah. Karenanya aku hampir benar-benar benci pada Allah atas yang diperbuat-Nya padaku. Hari sabtu dan ahad itu aku ada ujian tengah semester. Hari sabtu. Seharusnya malam ini aku mengikuti ujian kimia analitik 2. Tapi malang nasib, maghrib setelah ku baru saja pulang dari masjid untuk shalat maghrib, kunci-kunciku hilang yang entah di mana dan kapan hilangnya. Ku cari-cari di sepanjang jalan menuju ke masjid. Tidak ketemu. Bahkan aku masuk ke masjid dan mencarinya. Astaghfirullah. Kawan, sebenarnya aku malu melakukan itu. Mencari barang hilang di masjid adalah sesuatu yang tidak dibenarkan dalam islam. Aku malu pada Allah. Aku juga sungguh malu pada Rasulullah saw. Aku takut Allah dan Rasul-Nya membenciku hanya karena sebuah barang yang hilang. Tapi tahukah kau kawan, kunci-kunciku yang hilang itu adalah sebagian hidupku? Kunci kamar kos, kunci motor dan kunci gemboknya, juga kunci loker kerjaku. Aku bingung. Aku terpaksa mencarinya sampai ke dalam masjid bahkan menanyakannya kepada DKM di sana, mungkin saja mereka melihat kunci-kunciku itu. Perutku tiba-tiba terasa memanas. Kelebihan asam karena stres. Kalau tak ada kunci itu bagaimana ku masuk kamar? Bagaimana ku hidupkan motor? Bagaimana juga dengan lokerku, dengan apa akan ku buka? Oh, please Allah, Kau telah mempersulitku. Padahal sudah seharian ini do'aku adalah allahumma yassirlahu walaa tu'assir, ya Allah permudahlah dan jangan persulit. Ku mohon itu agar Engkau memudahkan ujianku dan ujian teman-temanku malam ini dan esok hari. Tapi apa yang telah Kau perbuat padaku. Bukannya mempermudah malah mempersulitku. Tidakkah Kau saksikan aku sudah jauh-jauh pulang ke rumah di Lembang baru siang tadi hanya untuk memakai pakaian hitam putih dan mencetak bahan-bahan materi ujian dan menjelang petangnya aku datang ke masjidmu untuk shalat dan berdoa? Itu semua ku lakukan untuk apa? Ku lakukan karena Engkau-lah tempatku bergantung, ya Shamad. Aku tak habis pikir. Apa yang sebenarnya Kau rencanakan? Jujur ku mulai tak suka cara-Mu? Bukankah Kau seharusnya mengabulkan do'aku untuk mempermudah ujian dan bukan mempersulitnya? Astaghfirullah. Ku ucapkan itu berkali-kali. Hatiku mulai memanas seperti halnya perutku. Aku sadar dengan apa yang ku ucapkan dalam hatiku. Sambil terus mencari kunci-kunci itu bolak-balik dari daerah kos sampai masjid, aku terus berpikir mencari tahu apa yang sebenarnya yang dikehendaki Allah. Apakah Dia ingin menghukumku untuk menghapus dosa-dosaku? Alhamdulillah. Tapi kenapa harus sekarang? Ini sudah injury time menuju ujian kimia analitik, tinggal tiga menit lagi jam akan menunjukkan pukul tujuh petang. Bahkan para mu'adzin sudah bersiap mengumandangkan adzan 'isya. Tapi aku masih kelimpungan, stres bolak-balik mencari-cari serangkaian kunci. Aku hampir putus asa. Aku sempat berpikir aku akan berhenti dari pekerjaan utamaku yaitu sebagai hamba-Nya. Karena ku pikir keterlaluan sekali Ia memberiku pelajaran di saat mendesak seperti ini.
Ah, sepertinya aku harus shalat dulu dan berdo'a mencari tahu apa sebenarnya maksud dari Perbuatan-Nya ini padaku. Daripada hatiku semakin panas dan banyak berburuk sangka pada-Nya.
Aku terus mengerutkan dahiku bahkan di saat shalat dan berdo'a. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Hanya dadaku saja yang makin terasa sesak. Sangat sesak, kawan, sungguh aku merasakan sesak hati yang begitu menyesakkan. Tapi hati kecilku yang lain berkata bahwa ini pasti memang sudah tertulis di Lauh Mahfuzh dan apa yang Ia tuliskan untukku pasti bukanlah keburukan. Tak mungkin Pengasih Penyayang berbuat keji dan mengkhianati Nama-Nya sendiri. Sungguh tak mungkin. Dan aneh sekali, kenapa di saat terpuruk seperti ini aku masih berpikir Dia Pengasih Penyayang.
Tapi, ternyata memang Dia itu Pengasih Penyayang, kawan. Setelah ku pulang dari masjid usai shalat isya, dengan hati dan pikiran yang lelah, masih belum ku temukan kunci-kunci itu. Aku ingin memberitahu teman-temanku yang mungkin sudah mulai ujian kimia analitik lewat sms, tapi entah kenapa aku merasa tak ingin melakukannya. Rasanya aku tak rela kalau sampai ada di antara mereka yang ikut merasa khawatir atas keadaanku. Lagipula bagaimana akan ku masuki kamar kosku kalau kuncinya pun tiada. Ponselku kan ada di dalam kamar. Situasi genting. Aku harus berpikir cerdas dan cepat. Ku ketuk pintu rumah Bu Imas, ibu pemilik kos-kosan yang ku tinggali ini. Sudah tiga kali kuucapkan salam sambil mengetuk pintu. Aku malu untuk salam dan mengetuk yang keempat kalinya, karena Rasulullah saw menyunahkan apabila mengunjungi rumah saudara sesama muslim agar mengetuk pintu dan salam tidak lebih dari tiga kali. Aku khawatir akan mengganggu istirahat tuan rumah. Tapi mau bagaimana lagi. Aku butuh kunci cadangan kamarku ini. Aku kehausan, kelelahan, stres, bingung, butuh istirahat, butuh ponsel, butuh belajar. Dan ketika akan ku ketuk pintu untuk yang keempat kalinya, ku lihat lampu dinyalakan pertanda tuan rumah mau membukakan pintu rumahnya. Alhamdulillah. Agak melegakan. Aku bisa istirahat di dalam kamar sambil memikirkan apa langkah selanjutnya, apakah langsung berangkat ke kampus saat itu juga walaupun tahu akan terlambat, atau sudah cukupkan saja hari ini, tenangkan pikiran dan hindari buruk sangka pada Allah.
Ternyata yang saat itu keluar bukan ibu kos tapi suami beliau. Aku mengutarakan sedikit tentang masalahku kemudian aku meminta beliau meminjamkanku kunci cadangan kamarku. Alhamdulillah aku dipinjami beliau.
Dengan kunci itu ku masuki kamarku dan langsung terpikir bagaimana ujianku selanjutnya. Aku memilih merenung sejenak. Terduduk agak lama hingga kemudian ponselku berdering. Sms dari Deni, teman dekatku. Ia menanyakanku mengapa belum datang. Ku jawab sejujurnya aku sedang dikenai musibah. Lalu ia balas lagi, katanya masih ada waktu 30 menit untuk ujian kimia analitik. Ku pikir waktu 30 menit tidak akan cukup sampai di sana. Untuk mengerjakan soal saja, waktu 30 menit akan sangat menyulitkan. Ditambah waktu perjalananku ke kampus. Tidak akan cukup. Tapi entah mengapa aku merasa harus ke kampus. Aku harus memperjuangkan ini. Aku sempat berpikir untuk ujian besok saja, tapi setelah ku pikir lagi, aku ini kufur jika tidak datang ka kampus sekarang. Setidaknya dengan kehadiranku di sana itu sudah membuktikan niat dan kesungguhanku untuk ujian dan melanjutkan hidup. Langsung ku bawa tasku. Aku memang belum membaca sedikitpun materi ujian kimia analitik 2 malam ini. Padahal sudah jauh-jauh ku cetak materinya di Lembang, tapi ini adalah usahaku, kawan. Aku tak mau kelihatan berputus asa dari rahmat-Nya. Bismillahi tawakaltu aku berangkat dan ku panggil ojek motor supaya lebih cepat sampai.
Selama perjalanan dengan ojek itu, pikiranku masih berputar-putar antara kunci-kunci, ujian, dan misteri kehendak-Nya. Perbuatan-Nya padaku itu benar-benar misteri bagiku. Aku dibuat-Nya heran, bingung, limbung, lemah, lelah, dan jujur saja aku sedikit marah dan kesal. Aku tak tahu bagaimana akan ku lalui ujian ini. Mungkin ini memang bukan ujian biasa. Ini ujian yang langsung diturunkan-Nya untukku. Mungkin menurut-Nya, ujian kimia analitik 2 seperti itu terlalu mudah bagiku, lagipula Allah yang ku mintai pertolongan-Nya untuk mempermudah ujianku dan ujian teman-temanku takkan dengan begitu saja memberikan apa yang ku minta sedangkan aku ini adalah seorang pendosa yang bisanya hanya membuat-Nya terheran sekaligus marah atas perbuatan bodoh dan berlebihanku. Maka dari itu, ia tambahkan sedikit tantangan untuk menghapus dosaku. Ia ingin aku terdidik dengan baik ketika ku nanti berjumpa dengan-Nya, insyaallah. Ya, ku sadari peristiwa kecil yang substansinya besar ini sangat merubahku. Tapi kini ujian kimia analitik 2 benar-benar harus ku hadapi malam ini juga. Sang ojek masih dengan santainya mengendarai motornya sambil memboncengku yang sudah berdebar kelelahan. Hingga akhirnya ku sampai di kampus, aku ingat aku harus mengambil kartu ujian yang tempo hari belum ku ambil. Ku naik ke lantai dua gedung kuliah. Ku masuki ruang TU. Langsung ku dekati Bu Yanti yang sedang membereskan mejanya, sepertinya ia sudah mau pulang. Aku menanyakan kartu ujianku. Ia menjawab, “Besok aja ya.”, dengan santainya. Lalu bagaimana ku masuk ruangan ujian kalau aku tak membawa kartu? Ia langsung menjawab dengan pertanyaan, “Lho, kamu baru dateng, wah, ini udah mau pulang, ya udah besok aja ujiannya ya. Kamu besok ujian siang aja pas yang lain istirahat..?”, begitu katanya sambil terheran mengapa ku terlambat datang ujian. Ia menanyaiku ini dan itu lalu ku beritahu bahwa dua jam yang lalu aku baru saja ditimpa musibah. Ia memakluminya. Bu Yanti memang baik dan pengertian. Akhirnya dengan terpaksa aku yang sudah jauh datang dengan membayar ojek sepuluh ribu rupiah, harus pulang tanpa ujian kimia analitik 2. Ku lihat teman-temanku masih ada yang mengerjakan soal ujian. Sebagian yang lain sudah di luar ruangan ujian. Mungkin mereka yang sudah selesai ujian masih menunggu mereka yang masih di dalam ruang ujian. Tapi aku langsung pulang. Ya, aku pulang berjalan kaki sampai kamar kosku sambil terus memikirkan misteri apa yang tersembunyi di balik peristiwa ini. Kakiku melangkah sepanjang jalan tetapi pikiranku melayang menembus tiap lapis langit sampai ke 'Arsy. Aku tak tahu bagaimana itu 'Arsy, tapi aku penasaran apa yang sebenarnya direncanakan Allah di atas 'Arsy kediaman-Nya itu.
Aku benar-benar hampir membenci keputusan-Nya ini. Ia memberiku musibah ini di saat aku membutuhkan kemudahan dari-Nya. Malang nasib, bukan kemudahan yang didapat malah kesulitan yang menerpa. Apa itu artinya yassir bagi-Nya. Setahuku, yassir itu adalah mudah. Dan 'assir ('usr) adalah sulit. Hari ini aku berdoa allahumma yassirlahu walaa tu'assir bukan sebaliknya allahumma tu'assirlahu walaa tuyassir. Aku meminta kepada-Nya kemudahan dan dijauhkan dari kesulitan. Tapi mengapa Ia kabulkan yang sebaliknya? Terang saja aku terheran dan sedikit kesal. Apa maksudnya ini?
Aku terus beristighfar memohon ampun. Aku mungkin salah pikir. Aku terus mencari-cari apa yang sebenarnya dikehendakinya. Misterius. Aku hampir putus asa. Aku hampir tak mau lagi menjadi hamba-Nya dan melawan fitrah kemanusiaanku hanya karena persoalan sekecil kunci. Tapi aku tahu, lubuk hatiku yang paling dalam
berkata bahwa pasti semua ini ada hikmahnya. Allah memang selalu bekerja secara misterius. Kadang perbuatan-Nya sangat menyakitkan. Tapi rasa pedih dan sakit itu selalu berakhir dengan penyadaran akan kebaikannya yang tak putus. Kadang setelah tersadar dan sampai pada akhir dari ujian-Nya, seorang hamba bisa tersungkur sujud malu, takut, bercampur harap dan syukur. Sepanjang pengalamanku 'dikerjai-Nya' aku tak pernah dikecewakan-Nya dengan derita yang berkepanjangan atau akhir yang buruk. Pasti selalu sewajarnya dan aku mampu menyelesaikan ujian-Nya dengan happy ending. Maka dari itu, ujian-Nya kali ini pun pasti takkan jauh berbeda, ia tak mungkin menghendaki keburukan atas diriku. Maka aku berpikir keras dengan perenungan yang dalam tentang apa saja yang telah ku lakukan hari ini dan hari-hari sebelumnya. Mungkinkah ada orang-orang yang ku zhalimi. Atau ada waktu dzikir pada-Nya yang ku lupakan. Atau mungkin ada nikmat yang seharusnya ku syukuri tapi berkali-kali diingatkan-Nya untuk bersyukur tapi aku tak jua bersyukur. Kemelut hatiku masih riuh dan tubuhku merasakan haus dan kelelahan yang sangat, tapi entah mengapa aku merasa kuat akan sampai di kamar kos. Aku terus berjalan. Hingga akhirnya sampai juga ku di kamar kos. Terpikir untuk langsung belajar kimia analitik 2 yang hari ini tak sempat ku pelajari. Mungkin inilah maksud-Nya dengan kemudahan. Ia memberiku waktu untuk belajar lebih banyak karena masih kurang belajar. Alhamdulillah, ya Allah ternyata Engkau Maha Baik. Aku ingin langsung mensyukuri-Nya dengan membaca materi kimia analitik 2 yang tadi siang ku cetak. Tapi tubuhku sangat kelelahan. Ku rebahkan tubuh ini sejenak. Aku harus tetap berlaku adil pada tubuh yang hanya titipan-Nya ini. Tak boleh dipaksakan bekerja di saat lelah. Bisa sakit tubuh ini jadinya nanti.
Sambil merenung dan beristighfar, aku teristirahatkan. Betapa nikmatnya merebahkan tubuh di kasur ini. Aku tak pernah merasa senikmat ini. Tak bisa ku hitung berapa kali ku tidur di kasur yang biasa menjadi tempat tidurku ini, sudah ratusan kali, tapi baru hari ini aku menikmatinya. Mungkin ini yang dimaksud-Nya dengan jangan persulit, Ia kabulkan doaku, walaa tu'assir, jangan persulit. Ia tak ingin aku mempersulit diri dengan memaksakan harus ujian kimia analitik 2 malam ini juga. Santai saja, kira-kira begitulah maksud-Nya. Ya Allah, apakah aku berhak bersantai-santai? Tapi seiring berjalannya waktu akhirnya aku tertidur tanpa ku baca sepatah kata pun dari materi ujian kimia analitik 2 itu.
Entah bodoh atau kufur. Aku kehilangan kesempatan untuk belajar di malam hari. Seharusnya ku syukuri waktu malam yang telah diberikan-Nya untukku belajar karena siang kemarin aku tak sempat belajar. Astaghfirullahal 'azhim. Gawat. Ketika adzan shubuh berkumandang membangunkanku, aku tersadar aku baru saja melewatkan kesempatan berharga. Segera ku mandi kemudian shalat shubuh, dzikir pagi dan membaca alquran. Tak lupa ku berdoa. Ku akui semua kesalahanku berburuk sangka kepada-Nya. Ku minta pada-Nya kali ini untuk berikanku yang terbaik sesuai yang telah Ia tuliskan di Lauh Mahfuzh. Aku ridha dengan apapun keputusannya. Aku berserah diri. Terserah Engkau Ya Allah, aku milik-Mu. Tawakaltu 'alaika yaa Allah.
Lalu ku baca materi-materi ujian hari ini sedapat mungkin. Ujian yang pertama Ahad pagi ini adalah kimia fisik 2 kemudian dilanjutkan dengan statistika kimia dan saat teman-temanku yang lain istirahat, aku harus ujian kimia analitik 2. baru setelah itu dilanjutkan lagi dengan kimia anorganik 2. Empat ujian sekaligus dalam satu hari. Overcapacity memang. Tapi ini tantangan bagiku. Dan hidup penuh lika-liku dan tantangan adalah hidup yang ku pilih. Satu lagi misteri perbuatan-Nya yang terungkap. Ini membuatku semakin optimis, bahwa Allah memang menghendaki kebaikan bagiku, Ia mengajariku tawakal dengan memberi tantangan dan kesulitan. Kebaikan-Nya menghapus buruk sangka di hatiku, melunturkan amarah dan kesal yang menyempitkan dadaku. Alhamdulillah. Aku semakin tenang. Semakin bersemangat. Penuh cinta kepada-Nya. Aku mulai suka dengan cara-Nya mengajariku tawakal.
Sejak satu jam sebelum ujian dimulai, ku langsung berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Bismillahi tawakaltu 'alallah, la hawla wala quwwata illa billah. Berjalan kaki, karena selain menyehatkan, itu memberiku kesempatan untuk kembali membaca materi ujian. Ini juga ku lakukan karena memang motorku juga tak bisa dipakai karena kuncinya tiada. Efektif dan efisien bukan?
Setelah sampai di kampus, langsung ku tuju masjid Al Hidayah, masjid kampus. Shalat dua rakaat tahiyatul masjid cukup menjernihkan pikiran dan hatiku. Setelah berdoa, ku baca lagi semua materi kuliah sedapat mungkin hingga jarum jam menunjukkan tepat pukul delapan.
Jam 08.00 ku masuki ruangan ujian dengan penuh optimis. Aneh. Padahal baru tadi malam hati dan pikiranku kacau, dan paginya Allah sudah mengganti semua itu dengan semangat dan cinta. Subhanallah. Rabbana maa khalaqta hadza bathilan, subhanaka faqina adzabannaar.
Ku kerjakan soal-soal kimia fisik dengan lancarnya tanpa tengak kanan tengok kiri. Ada beberapa soal yang tak bisa ku kerjakan, jawabannya tidak ada dalam memoriku. Terpikir olehku untuk bertanya saja pada teman. Tapi sungguh kufur, jika aku masih bergantung pada manusia apalagi setelah kebaikan-Nya terpancar kepadaku. Maka ku serahkan semua memoriku kepada-Nya. Ku andalkan hatiku. Ku tuliskan apapun yang terlintas di hatiku tentang soal-soal itu. Setelah itu terserah pada-Nya. Anehnya, tak sedikitpun ada risau di hatiku. Malah ketenangan yang menyelimutiku, seolah Allah berkata kepadaku, “Cukup. Sampai situ saja. Selanjutnya biarkan Aku yang bekerja...”. Tak pernah ku rasakan sensasi sedekat ini dengan-Nya. Maka ku turuti kata hatiku. Ku kerjakan semua soal semampunya. Kemudian ku serahkan kepada-Nya.
Perasaan dan pikiran yang sama juga terjadi di ujian-ujian selanjutnya. Sampai keempat ujian itu berakhir pada pukul 14.00. Lancar sekali hari ini ku lewati ujian. Tersadar ku akan satu hal. Ia baru saja mengabulkan doaku untuk memudahkan dan menghilangkan kesulitan. Alhamdulillah. Rasanya aku ingin sekali bersujud syukur. Ku sujud sedalam-dalamnya dan mengakui kebesarannya. Ia mengabulkan doaku sekaligus mengajariku tawakal. Ia telah berhasil membuatku semakin mencintai-Nya. Andai saja malam sebelumnya aku benar-benar berhenti menjadi hamba-Nya, aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku hari ini. Yang pasti aku tak mau mati dalam keadaan seperti itu.
Ia telah berkali-kali melakukan hal-hal yang misterius padaku, dan ujung-ujungnya selalu aku yang diuntungkan. Pada awalnya memang perih, tetapi akhirnya selalu indah. Itulah misteri perbuatan-Nya. Aku tak lagi mempersoalkan kunci-kunci yang hilang itu. Hanya syukur, itu yang terngiang-ngiang di otakku selama beberapa hari setelah hari yang indah itu.
Sekali lagi aku diajarinya bertawakal. Terimakasih Allah. Tetapi aku masih belum mampu menghitung nikmat-Mu. Banyak sekali nikmat-Mu, aku tak tahu harus mulai darimana menghitung. Tapi yang pasti, aku takkan berhenti bersyukur. #istana hujan, 24 rabi'ul akhir 1430

0 komentar:

Posting Komentar



ShoutMix chat widget